Perlukah Merasa Teriris ?
Peri Peri telah pergi dan kuncup bunga telah layu
saatnya tuk pergi
mendekat pada sang ajal.
mendekat pada sang nisan
Selasa, 25 Juni 2013
Kamis, 20 Juni 2013
Sosok
Kadang ku bertanya pada diri ini sosok yang dapat dikagumi jaman ini siapa ?
Kita mungkin lebih memilih untuk mengagumi sosok masa lalu.
Sudirman, Kartini, Tan Malaka, Gie, Chairil Anwar, Soekarno, Soeharto dan seterusnya.
Aku menyukai buku harian Gie,
yang dalam pergulatan pemikiranya.
entah benar atau salah.
Aku menyukai sosok kartini.
atas surat suratnya yang memukau
Namun Di Jaman ini,
masih adakah sosok figur yang bisa menjadi panutan ?
Apakah Idealisme sekarang terlalu mahal tuk dibeli ?
Mungkin aku muak atas presidenku saat ini atas kekurangan wibawaanya.
Mungkin aku muak dengan jajaran elit politik yang tersandung atau bahkan terjungkal oleh kasus.
entah itu sapi, Al Quran, korupsi atau urusan uang2 lainya.
Demokrasi berarti mewakilkan diri rakyat kepada sosok berbakat,
sosok yang peduli.
Aku tak mau punya pemimpin bermuka dua.
kalau ku sempat kan kupotong mereka menjadi dua juga.
Aku inginkan sosok hidup saat ini yang bisa membawa perubahan segar.
menjadi panutan akan sikapnya.
Tak Apalah,
mungkin saat ini ku hanya bisa mengidolakan sosok jokowi dan ahok.
tapi ku butuh lebih banyak sosok lain.
sosok untuk negeriku ini
Apakah kita harus maju menjadi sosok itu kawan ?
terjun di lumpur kotor ini.
Senin, 17 Juni 2013
Dongeng Lumut Cokelat
Berjalan di pematang sawah yang diselingi padi anakan yang berwarna hijau, Raja Rubah mengeram Pelan.
keempat kakinya berjalan dengan was was. Takut Akan ketahuan manusia yang bertuankan tanah tersebut.
Sudah 3 Hari ini sang Raja Rubah keluar dari hutan untuk ke sawah.
menuruni Gunung dan meninggalkan semak belukar. Dengan asa kan hidup lebih lama.
Ke Sawah Hijau di kaki gunung Lawu karena kehausan. Mata Air telah kering, sekering air mata banyak hewan yang mati kelaparan di kaki gunung itu.
Sang Raja Rubah terantuk sebuah batu. Batu yang membuatnya terkesima, batu yang tertutup Lumut Cokelat.
Lumut hidup.
Akan tenangnya di panas terik itu.
dan warna kecokelatan dan motif disekujur tubuhnya yang unik.
Dan Si Lumut terkesima juga dengan si Raja Rubah.
Rubah berwarna merah dengan moncong hitam dan gigi setajam silet.
bagai mau menerkam namun dengan sorot mata bijaksana
” Hai Lumut, Bagaimana Hidupmu disini ? Senangkah ? “
Tanya Sang Raja Rubah penuh tanya
” Aku Disini beratapkan langit dan panas serta suara-suara katak dan jangkrik dengan riang menemaniku”
” Aku Bahagia, Walaupun aku sepertinya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta”
Jawab Sang Lumut Cokelat
“Apa yang membuat tuan datang kemari ? ” Ujar si lumut cokelat sopan
“Wahai Lumut Cokelat ” Aku disini karena naluri agar tetap ingin hidup
“Air Di kaki gunung Lawu telah mengering dan mati.
mungkin karena pohon pohon besar dan tinggi yang telah hidup dari jaman kakekku masih kecil telah ditebangi”.
“Nyanyian Nyanyian bising dari suara suara logam yang dibawa mahluk berkaki dua yang kata tetuaku bernama manusia sungguh memuakkan.” Ucap Si Raja Rubah sambil mengeram
“Wahai Raja Rubah yang Baik, Aku hanya ingin berkata. Mungkin suatu saat akan tiba saatnya ketika mannusia dapat memahami dan mengerti mahluk seperti kita”
“Mungkin suatu saat mereka kan menyadari dan mengembalikan apa yang bakal mereka renggut”
“seperti Pak Petani yang setelah menebangi para padi, mereka menanam yang baru dan merawatnya”
ucap si Lumut Cokelat
“Mungkin, dan Terima kasih atas ceritamu wahai Lumut Cokelat “
Ucap Si Raja Rubah berlalu dengan pelan.
Ia Ingin kembali secepatnya ke Keluarganya.
Kepada Istrinya yang berbulu kekuning kuningan dan rakyatnya yang patuh.
Kepada Tetuanya yang Bijak dan anak anaknya yang lucu.
Si Lumut Cokelat berharap sang Raja Rubah kan kembali.
Namun.
.
.
.
Sang Raja Rubah tak mungkin bisa kembali lagi,
Tidak Untuk Si Lumut Cokelat, Tidak Juga Untuk Keluarga Si Raja Rubah.
Dan Si Lumut Cokelat tidak menyadari apa apa
Tentang Peristiwa
tentang hakekat apa itu yang disebut manusia
dia hanya bisa mendengar
Hanya terdengar letusan suara senapan dari Kejauhan Hutan…………….
Rabu, 12 Juni 2013
Keinginan
![]() |
| Keinginan |
memimpikan masa depan yang cerah dan bermimpi untuk tersenyum gembira.
diantara kita ada yang berharap untuk memiliki rumah mewah.
Istri cantik atau suami yang tampan serta pangkat yang bisa dibanggakan.
namun.......................
Diluar sana, kalau kita peduli dan melihat lagi.
Orang Miskin dan nggak mampu.
Yang Kelaparan
yang tak punya uang
yang tak punya tempat tinggal
ternyata kita memiliki banyak hal yang tak mereka punya.
Apalagi Anak kecil yang tubuh dekil namun tak mau mengiba
Apalagi pada para penjual jajanan di kereta2
apalagi pada pengumpul rongsokan
Apalagi pada Pak Tua yang mendorong gerobak tuanya juga
dan begitu bencinya aku pada orang yang kaya karena mengemis,
mengiba namun sebenarnya mereka mampu
dan sebegitu bencinya aku pada pejabat yang mengambil milyaran uang itu,
uang yang bisa digunakan untuk membangun sekolah2 di pedalaman itu dan jalan jalan yang rusak.
walaupun aku tak pantas membenci dan lebih layak dibenci
kemiskinan itu tanggung jawab kita bersama dan bukan hanya tanggung jawab negara.
Negara kita menanggung PNS, Aparat Keamanan dan pegawai BUMN
namun bukan orang miskin.
Debat aku kalau aku salah
Hujat aku jika kata2ku tak sesuai kenyataan.
Kita sudah nggak bisa mengandalkan Negara,
Tapi kita bisa mengandalkan Bangsa
Bangsa Kita yang besar ini
Yah paling nggak kita bisa peduli dengan orang lain.
Melihat senyum mereka semoga bisa membahagiakanmu
Langganan:
Komentar (Atom)

