Senja,
Kapan Kau Kembali?
membawa hadir,
hadir yang tak akan kembali,
Membawa Pelukan hangat
Untuk membawa kesepian
penantian
dan penghakiman,
Senja,
bawa aku tuk tidur
dan tak kan bangun tuk selamanya
Senin, 17 November 2014
Senin, 18 Agustus 2014
Gadis bersuara lembut
Sudah Lama Nggak Nulis,
Apakah Besok Aku Besok Masih Bisa terbangun dan menjadi satu titik bagian untuk menjadi sebuah cerita,
Bernafas satu hembusan lagi
melihat setitik cahaya lagi
Namun Sebuah cerita dihidupku tampaknya telah usai.
yang menjadi berakhir sedih di babak ini.
Terlalu sakit ketika mengetahui kebenaran di akhir,
dan bukan diawal
BTW,
semoga bahagia ya,
Kamu,
Si Gadis Bersuara lembut,
Cheers
Apakah Besok Aku Besok Masih Bisa terbangun dan menjadi satu titik bagian untuk menjadi sebuah cerita,
Bernafas satu hembusan lagi
melihat setitik cahaya lagi
Namun Sebuah cerita dihidupku tampaknya telah usai.
yang menjadi berakhir sedih di babak ini.
Terlalu sakit ketika mengetahui kebenaran di akhir,
dan bukan diawal
BTW,
semoga bahagia ya,
Kamu,
Si Gadis Bersuara lembut,
Cheers
Selasa, 18 Maret 2014
Sakya - Memories
Bela telah menghilang dari kegelapan malam setelah lama mengumpat ngumpat Bhisma karena membuatnya repot harus mengantarnya dulu ke basecamp. Tapi entah, Bela sering tak pernah menolak permintaan sahabatnya itu untuk mengantar ke mana saja. Bahkan meski terpaksa telat sekalipun ke latihan teater.
meski esoknya Bhisma tau pasti Bela bakal ngomel ngomel dan minta paksa di beliin coklat atau ditraktir makan.
" Bangsat, kemana aja lu ? " Tanya Aldi. Sahabat Bhisma sejak dari SMA di Solo yang sedari tadi mondar mandir di Basecamp, Mukanya agak kesel karena dari 33 anggota aktif di mapala itu baru ada 7 orang yang kelihatan batang hidungnya.
Padahal malam itu agenda mereka sangat penting. Sebentar lagi pengembaraan calon anggota. dan hari itu mereka harus menentukan jalur pendakian serta pembagian Tim yang akan mendampingi secara diam diam para mahasiswa yang ikut pendakian, sedangkan Alfa. Ketua mereka sedang sakit tipes dan nggak bisa meng Handle anak anak seperti biasa.
" Sori Bro, tadi baru aja dari tempat Bela minta catetan. udah nyampe mana Bro Bahasnya? "
" Kampret, Baru ada kita doang segini mau bahas apaan ? " Aldi sewot menjawab pertanyaan dari Bhisma, selain dia orangnya on time seperti Bela, prinsipnya adalah tanggung jawab dan tepat waktu adalah hal yang paling penting.
Aldi juga ngiri sama Bhisma yang bisa deket sama Bela. padahal dia, jangankan deket, ngomong aja dicuekin dan dijawab sekenanya.
"elu Juga nih, ngasih tau mepet, gimana anak anak bisa datang ? " Bhisma mencoba membela diri.
"udah udah, kapan mulainya nih ? " Ucap Shella, cewek satu satunya di ruangan itu. seorang atlet panjat kebanggaan mereka yang telah memenangkan berbagai macam lomba panjat baik di kelas Lead ataupun speed.
keduanya terdiam sadar akan kesalahan mereka atas ego masing masing.
Bhisma lalu meletakkan tasnya di atas lemari kaca. Ia baru sadar. barang berharga yang seharusnya ia berikan ke Bela tadi masih di tasnya.
--------
" Bel, "
" yaaa, kenapa ?"
Hening
------
Hujan di luar mulai turun lagi, menimbulkan lumpur dimana mana.
Jam sudah terlalu malam, beberapa anak sudah pulang dari basecamp Mapala diujung belakang kampus itu. Aldi sedang mengantar Shella pulang ke kos. Tinggallah Bhisma sendirian.
Gelap.
Namun tak ada rasa takut di hati Bhisma. hanya rasa tenang.
Ia ingat masa lalu ketika saat masih kecil. tepatnya belasan tahun lalu di selo, boyolali sebelum ia pindah ke Solo .
Masa kecilnya di Selo sungguh indah. setiap pulang yang jauhnya 4 km berjalan kaki, ia sempatkan bermain di lapangan bersama sahabat sahabatnya, entah betengan, gundu, sepak bola kampung ataupun perang perangan. atau kadang di hutan, membantu Ibunya mencari kayu bakar atau sekadar mencari durian yang jatuh di tegalan milik tetangga.
Sore, adalah waktu yang sangat disukainya,
Suara burung burung yang kembali ke sarangnya dan siluet gunung merapi di belakang dan gunung merbabu di depan sungguh menarik hatinya.
Setelah itu
meski esoknya Bhisma tau pasti Bela bakal ngomel ngomel dan minta paksa di beliin coklat atau ditraktir makan.
" Bangsat, kemana aja lu ? " Tanya Aldi. Sahabat Bhisma sejak dari SMA di Solo yang sedari tadi mondar mandir di Basecamp, Mukanya agak kesel karena dari 33 anggota aktif di mapala itu baru ada 7 orang yang kelihatan batang hidungnya.
Padahal malam itu agenda mereka sangat penting. Sebentar lagi pengembaraan calon anggota. dan hari itu mereka harus menentukan jalur pendakian serta pembagian Tim yang akan mendampingi secara diam diam para mahasiswa yang ikut pendakian, sedangkan Alfa. Ketua mereka sedang sakit tipes dan nggak bisa meng Handle anak anak seperti biasa.
" Sori Bro, tadi baru aja dari tempat Bela minta catetan. udah nyampe mana Bro Bahasnya? "
" Kampret, Baru ada kita doang segini mau bahas apaan ? " Aldi sewot menjawab pertanyaan dari Bhisma, selain dia orangnya on time seperti Bela, prinsipnya adalah tanggung jawab dan tepat waktu adalah hal yang paling penting.
Aldi juga ngiri sama Bhisma yang bisa deket sama Bela. padahal dia, jangankan deket, ngomong aja dicuekin dan dijawab sekenanya.
"elu Juga nih, ngasih tau mepet, gimana anak anak bisa datang ? " Bhisma mencoba membela diri.
"udah udah, kapan mulainya nih ? " Ucap Shella, cewek satu satunya di ruangan itu. seorang atlet panjat kebanggaan mereka yang telah memenangkan berbagai macam lomba panjat baik di kelas Lead ataupun speed.
keduanya terdiam sadar akan kesalahan mereka atas ego masing masing.
Bhisma lalu meletakkan tasnya di atas lemari kaca. Ia baru sadar. barang berharga yang seharusnya ia berikan ke Bela tadi masih di tasnya.
--------
" Bel, "
" yaaa, kenapa ?"
Hening
------
Hujan di luar mulai turun lagi, menimbulkan lumpur dimana mana.
Jam sudah terlalu malam, beberapa anak sudah pulang dari basecamp Mapala diujung belakang kampus itu. Aldi sedang mengantar Shella pulang ke kos. Tinggallah Bhisma sendirian.
Gelap.
Namun tak ada rasa takut di hati Bhisma. hanya rasa tenang.
Ia ingat masa lalu ketika saat masih kecil. tepatnya belasan tahun lalu di selo, boyolali sebelum ia pindah ke Solo .
Masa kecilnya di Selo sungguh indah. setiap pulang yang jauhnya 4 km berjalan kaki, ia sempatkan bermain di lapangan bersama sahabat sahabatnya, entah betengan, gundu, sepak bola kampung ataupun perang perangan. atau kadang di hutan, membantu Ibunya mencari kayu bakar atau sekadar mencari durian yang jatuh di tegalan milik tetangga.
Sore, adalah waktu yang sangat disukainya,
Suara burung burung yang kembali ke sarangnya dan siluet gunung merapi di belakang dan gunung merbabu di depan sungguh menarik hatinya.
Setelah itu
Minggu, 09 Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
Sakya - Bela
Bandung,
Malam Sungguh Dingin, hujan rintik rintik jam 8 malam itu mengiringi Bhisma yang sedang lari- larian.
di sebuah sudut kecil di Bandung di bulan November, Kala daun daun di Pohon pohon angsana terayun lembut karena angin. hanya katak mungkin dan suaranya yang tampak semarak. sisanya cuma tetes hujan dan sepi.
Hujan tiap malam turun di bulan ini. Mungkinkah kota hujan pindah ke bandung ?
" Bela ada nggak nih, biasanya lu pasti ada mulu ma dia "
Bela sedang santai di kost, sambil meminum secangkir kopi sachetan di kost dan dengerin lagu lagu Souljah kesukaanya.
Baunya enak, Pikirnya. entah kenapa bau kopi bisa nenangin pikiran Bela yang kadang ruwet.
Bela lalu merapikan tasnya, persiapaan buat latihan teater nanti.
Bela adalah anak yang cinta kebersihan. di sudut kamar kostnya yang berwarna putih ada sebuah gitar accoustic, dan di sudut tersusun rak sepatu dan rak lemari pakaian, kontras dengan poster anggun di samping meja.
meskipun kamarnya yang emang rapi dan tersusun layaknya gadis lain tak serapi penampilanya yang tomboi.
dua tahun lebih sudah Bela pindah dari Bogor ke Bandung untuk kuliah sastra tapi belom pernah sekalipun teman temanya melihat dia pakai rok, pasti jelana jins dan kaos.
" Duak Duak Duak" suara ketukan keras dari arah pintu kamar.
Pasti Bhisma, pikir Bela,
mana ada mahluk hidup di bandung yang berani mengetuk pintu kost Bela keras keras selain Bhisma.
"Bis Malam lu ngapain hujan hujanan ke kos gue, pake acara ga ngontek lagi? " Tanya Bela Galak.
"Enak aja lu, manggel gua Bis malam"
" nama udah keren juga, Hape ketinggalan di Basecamp mapala".
Bhisma membela diri diejek sahabatnya itu.
" yah mendingan lah gue manggil Bis Malam, lumayan bagus kan ?"
" daripada nama asli lu, kayak personel Boyband "
" Ogah, nama gue bagus tau, Itu tuh nama karakter wayang di mahabarata".
" dan ........". Bhisma ngomong panjang lebar sejarah namanya yang ke 5 kalinya ia ceritakan ke Bela.
Bela udah males dengernya sambil tutup kuping. bukanya dia nggak suka wayang atau apa.
tapi kayaknya udah waktunya Bela latihan Teater.
Sebagai temen bela emang orangnya asik. tapi kalo urusan teater. Naudzubilah galaknya.
Dosen tata tulis sastra, Pak Rama pun nggak mampu menandingi kegalakan Bela.
"Udah udah Stop" potong Bela,
"Gue Mau nglatih teater, tau sendiri kan ini hari Sabtu "
"Oke deh Bel, lagian lu mah. orang gue ke kos elu mau minjem catetan deaktologi SIA"
Ia memohon dengan muka melas agar Bela mau dengan iklas minjemin dokumen berharga yang dia tulis rapi selama sebulan kuliah.
"Buat apaan coba ? lu udah pinter. Nyatet pelajaran juga kagak pernah!"
"Tumben tumbenan, pasti ada apa apanya."
tuduh Bela
"Lu kan tau gue bisa kuliah gara- gara beasiswa"
"Ada yang Gue kagak ngerti,Gue kan habis naik Gunung Ciremai. Gak ikut Kul 2 hari "
"mana Besok Senen Ujian kan ?"
" Boong ah, Nggak Gue kasih pinjem"
Bela kesel. Udah tau tabiat Bhisma kalo lagi bohong. maklum udah 2 tahun mereka sahabatan.
"Oke-oke, ada temen temen di kelas yang mau minjem buku elu, buat disalin buat belajar.
Kan satu jurusan juga tahu, elu tulisanya paling rapi"
"Terus, kenapa nggak pada minjem sendiri ? " tanya Bela selidik.
"Yaelah Bel, satu jurusan juga tau, elu yang paling galak. Gue doang yang berani ma elu "
Bela memang salah seorang gadis manis di sastra, tapi terkenal galak. dan mungkin hanya beberapa teman cowok Bela, dan Bhisma salah satunya. karena kebanyakan cowok yang deket sama Bela niatnya pengen jadiin Bela pacar. namun Bela protek sama dirinya agar tidak dideketin cowok cowok tersebut. Entah berapa batang coklat, Bunga ataupun kado yang dia tolak dari berbagai jenis cowok.
"Iya dah, tapi janji ga boleh lecek lho Bhis "
"Janji deh, eh elu mau berangkat jam berapa ? "
"Sama Gue ya"
Bela melihat Jam di dinding. Setengah jam lagi bakal mulai latihan.
Bela adalah anak tertib yang paling nggak suka telat.
" Nggak usah, ngrepotin elu. Gue mau pake motor Mira aja"
" Bukan Itu Bel "
"Terus ? "
"Gue kan kesini tadi naik angkot, terus jalan kaki"
" Anterin dong, ke Basecamp, Ada rapat nih "
Dan suarapun hening sejenak ...........
Malam Sungguh Dingin, hujan rintik rintik jam 8 malam itu mengiringi Bhisma yang sedang lari- larian.
di sebuah sudut kecil di Bandung di bulan November, Kala daun daun di Pohon pohon angsana terayun lembut karena angin. hanya katak mungkin dan suaranya yang tampak semarak. sisanya cuma tetes hujan dan sepi.
Hujan tiap malam turun di bulan ini. Mungkinkah kota hujan pindah ke bandung ?
Deretan perumahan bergaya jaman belanda yang diselingi pepohonan kecil terlihat di kanan kiri Bhisma.
unik dan romantis. namun bukan romantisme dipikiran Bhisma, malam itu hal yang paling penting baginya ada di dalam tas sampingnya.
yang Bhisma coba lindungi dari hujan.
Rumah kecoklatan no 5 di blok itu beratap biru langit.
tampak seorang gadis tinggi berambut panjang sedang membaca Novel Dorian Gray.
Gadis manis , kurus dan berkacamata tipis yang kelihatan dari gelagatnya ber IPK diatas 3.7
Disapanya gadis itu, yang sebenarnya agak jutek gara gara ada yang membuyarkan konsentrasinya membaca Novel.
Namun ketika dilihatnya Bhisma yang menyapa. Seutas senyum tersimpul di Bibirnya.
"Malem, Bela ada Mir ? " tanya Bhisma. sekenanya.
"Ada tuh, dikamarnya "
"Eh, Lu sekali kali, nyariin Gue kek ".
"Hujan - Hujan malah nyariin tuh combro"
Mira mencoba menyembunyikan kekecewaan karena yang di cari malah sahabatnya.
"Eh, Ntar Gue kapan kapan juga nyariin elu kok "
Bhisma jawab dengan mimik serius.
"Hah, kapan ?" Mira ngarep
"Ntar kalo si Bela nggak ada, Gue ntar nyariin elu " jawab Bhisma polos.
Jawaban polos yang sebenernya kalo cowok tau itu bakal nyakitin cewek. pasti ga bakal diucapin.
" Bela ada nggak nih, biasanya lu pasti ada mulu ma dia "
Membuyarkan Mira yang sesaat melamun.
" Tau Ah , kayaknya tuh anak lagi ada di kamarnya"
"Makasih Miraa, " Bhisma nyengir seneng,
"Eh ada coklat gue ambil ya"
setelah ngambil cokelat di meja Mira, Si Bhisma yang lari ngacir ke arah kamar Bela.
"Makasih Miraa, " Bhisma nyengir seneng,
"Eh ada coklat gue ambil ya"
setelah ngambil cokelat di meja Mira, Si Bhisma yang lari ngacir ke arah kamar Bela.
Mira cuma bisa geleng kepala dan senyum. Ada ya mahluk kayak gini.
----------------------
Bela sedang santai di kost, sambil meminum secangkir kopi sachetan di kost dan dengerin lagu lagu Souljah kesukaanya.
Baunya enak, Pikirnya. entah kenapa bau kopi bisa nenangin pikiran Bela yang kadang ruwet.
Bela lalu merapikan tasnya, persiapaan buat latihan teater nanti.
Bela adalah anak yang cinta kebersihan. di sudut kamar kostnya yang berwarna putih ada sebuah gitar accoustic, dan di sudut tersusun rak sepatu dan rak lemari pakaian, kontras dengan poster anggun di samping meja.
meskipun kamarnya yang emang rapi dan tersusun layaknya gadis lain tak serapi penampilanya yang tomboi.
dua tahun lebih sudah Bela pindah dari Bogor ke Bandung untuk kuliah sastra tapi belom pernah sekalipun teman temanya melihat dia pakai rok, pasti jelana jins dan kaos.
" Duak Duak Duak" suara ketukan keras dari arah pintu kamar.
Pasti Bhisma, pikir Bela,
mana ada mahluk hidup di bandung yang berani mengetuk pintu kost Bela keras keras selain Bhisma.
"Bis Malam lu ngapain hujan hujanan ke kos gue, pake acara ga ngontek lagi? " Tanya Bela Galak.
"Enak aja lu, manggel gua Bis malam"
" nama udah keren juga, Hape ketinggalan di Basecamp mapala".
Bhisma membela diri diejek sahabatnya itu.
" yah mendingan lah gue manggil Bis Malam, lumayan bagus kan ?"
" daripada nama asli lu, kayak personel Boyband "
" Ogah, nama gue bagus tau, Itu tuh nama karakter wayang di mahabarata".
" dan ........". Bhisma ngomong panjang lebar sejarah namanya yang ke 5 kalinya ia ceritakan ke Bela.
Bela udah males dengernya sambil tutup kuping. bukanya dia nggak suka wayang atau apa.
tapi kayaknya udah waktunya Bela latihan Teater.
Sebagai temen bela emang orangnya asik. tapi kalo urusan teater. Naudzubilah galaknya.
Dosen tata tulis sastra, Pak Rama pun nggak mampu menandingi kegalakan Bela.
"Udah udah Stop" potong Bela,
"Gue Mau nglatih teater, tau sendiri kan ini hari Sabtu "
"Oke deh Bel, lagian lu mah. orang gue ke kos elu mau minjem catetan deaktologi SIA"
Ia memohon dengan muka melas agar Bela mau dengan iklas minjemin dokumen berharga yang dia tulis rapi selama sebulan kuliah.
"Buat apaan coba ? lu udah pinter. Nyatet pelajaran juga kagak pernah!"
"Tumben tumbenan, pasti ada apa apanya."
tuduh Bela
"Lu kan tau gue bisa kuliah gara- gara beasiswa"
"Ada yang Gue kagak ngerti,Gue kan habis naik Gunung Ciremai. Gak ikut Kul 2 hari "
"mana Besok Senen Ujian kan ?"
" Boong ah, Nggak Gue kasih pinjem"
Bela kesel. Udah tau tabiat Bhisma kalo lagi bohong. maklum udah 2 tahun mereka sahabatan.
"Oke-oke, ada temen temen di kelas yang mau minjem buku elu, buat disalin buat belajar.
Kan satu jurusan juga tahu, elu tulisanya paling rapi"
"Terus, kenapa nggak pada minjem sendiri ? " tanya Bela selidik.
"Yaelah Bel, satu jurusan juga tau, elu yang paling galak. Gue doang yang berani ma elu "
Bela memang salah seorang gadis manis di sastra, tapi terkenal galak. dan mungkin hanya beberapa teman cowok Bela, dan Bhisma salah satunya. karena kebanyakan cowok yang deket sama Bela niatnya pengen jadiin Bela pacar. namun Bela protek sama dirinya agar tidak dideketin cowok cowok tersebut. Entah berapa batang coklat, Bunga ataupun kado yang dia tolak dari berbagai jenis cowok.
"Iya dah, tapi janji ga boleh lecek lho Bhis "
"Janji deh, eh elu mau berangkat jam berapa ? "
"Sama Gue ya"
Bela melihat Jam di dinding. Setengah jam lagi bakal mulai latihan.
Bela adalah anak tertib yang paling nggak suka telat.
" Nggak usah, ngrepotin elu. Gue mau pake motor Mira aja"
" Bukan Itu Bel "
"Terus ? "
"Gue kan kesini tadi naik angkot, terus jalan kaki"
" Anterin dong, ke Basecamp, Ada rapat nih "
Dan suarapun hening sejenak ...........
Jumat, 21 Februari 2014
Teruntuk Vanelant
Sebuah Surat yang ditulis oleh orang yang baru kenal denganmu beberapa Bulan,
Yang Bahkan hanya baru bertemu beberapa kali,
Tapi Pria ini berani menaruh hati padamu. Gadis Beralis Tebal, Berdarah Padang dan Bermata lembut.
Kurus dan Bicara Dengan Logat Sunda.
Dimatanya aku temukan keteduhan, Di Sikapnya Aku Temukan Keceriaan.
Pecinta Doraemon,
Pecinta Fotografi,
Seperti gadis lain, dia tak mudah dimengerti
Menggandeng tangan mu aku merasa nyaman,
Melihat senyummu aku tak bosan,
Gadis yang siap aku lepas jika dia mau bersama yang lain,
Dan aku disini Bukan Pria Lemah,
yang akan Meratap ratap agar kau disampingku,
Kepingan Hati ini sudah ditempa
Ditempa hidup yang pastinya tak pernah dirasakan orang lain,
Aku hanya ingin disini untuk bahagiakan,
Itu saja
Rabu, 19 Februari 2014
Untiltle
Hari ini,
Perlu disadari bahwa baik aja enggak cukup.
Kuat Mental dan kebesaran hati juga penting.
Film bukanlah panduan untuk cara Hidup,
Buku juga hanya ditulis oleh manusia dengan segala keterbatasan akalnya.
Koran hanyalah bagian dari Sebuah Persepsi,
bagian atas Pandangan.
Rasa Sakit diperoleh saat Hidup
Perlu disadari bahwa baik aja enggak cukup.
Kuat Mental dan kebesaran hati juga penting.
Film bukanlah panduan untuk cara Hidup,
Buku juga hanya ditulis oleh manusia dengan segala keterbatasan akalnya.
Koran hanyalah bagian dari Sebuah Persepsi,
bagian atas Pandangan.
Rasa Sakit diperoleh saat Hidup
Untitle
Nice story of last nite.
Hidup itu aneh, Bukankah begitu kawan ?
Cerita kan lah Ceritamu Tuliskanlah kisahmu.
Sebelum Ingatan Mulai terhapus waktu, dan Sebelum Badan tertutup Tanah..........
Selasa, 18 Februari 2014
Catatan Pendakian Gunung Sindoro - Part 2 Life
Catatan Pendakian Gunung Sindoro - Part 2 Life
" Mas nur Dimana Yuk ? " tanyaku pada Bayu yang berjalan di depanku.
Khawatir aku akan kondisi mas nur yang berjalan paling depan, sementara kakinya baru saja terperosok.
" Entah, tadi Masih Kelihatan " Bayu menoleh padaku.
Jam 18.30 di jam di pergelangan tangan kiriku.
Ini sudah sekitar dua jam kami berjalan dari Puncak Sindoro ke Pos 3 dengan kondisi mulai hujan dan berkabut.
Untunglah Angin kencang yang sedari tadi berhembus sudah agak mereda.
Namun Gelap Malam Tak Bisa berbohong,
Jalan Sudah mulai gelap. dan rombongan mulai terpisah, entah kenapa.
" gap, Tolong tungguin anak anak yang dibelakang "
Pintaku pada Gagap yang berjalan dibelakangku. Tampaknya wajahnya juga sudah mulai kepayahan.
Sementara aku dan Bayu berjalan agak cepat menuruni jalan setapak untuk mengejar Mas Nur.....
Flash Back - 2 Jam Sebelumnya
Kami Sudah mulai menuruni Jalan Setapak dari puncak. Pandangan Mata sekitar 15 Meter karena tertutup kabut
- Kata Ari.
" Dik Gimana Nih ? " Tanyaku
" mau Nggak Mau kita harus turun ke Pos 3 sebelum gelap dan Mendirikan Tenda disana" Ujar Sidhik
terlalu berbahaya jika harus mengecamp di batu tatah ataupun di bawah puncak dengan kondisi seperti ini

Kami pun Berjalan turun dan beberapa kali ketemu pendaki yang malah sedang mau naik. Entah apa di pikiran mereka. pohon pohon edelweish dan rerumputan tampak berembun, Dingin.
Ingin rasanya pemandangan ini berubah menjadi hutan hutan dengan pepohonan tinggi agar angin dingin tak terlalu menusuk.
Pohon lamtoro yang pendek, kurus dan kokoh seakan menghina kelelahan tubuh kami. Sekali Kali terperosok bebatuan juga kami rasakan.
Salah Satu Tips menuruni jalur dari Puncak ke Pos 3 adalah melakukan orientasi dulu, karena ada beberapa lajur landai disamping untuk turun disisi lain lajur yang penuh bebatuan.
tangan Juga Dapat dipakai untuk membantu pergerkan juka jalan agak Curam dan jangan lupakan untuk memakai Tumit dan bukan ujung kaki.

Langit Kemerahan di ujung Gunung Sumbing menandakan bahwa langit sudah mulai akan gelap........
2 jam berlalu
Akhirnya aku Dan bayu sampai di Pos 3, Disini Tenda Tenda sudah dibangun oleh pendaki pendaki lain. Jam Menunjukkan Pukul 7 dan langit Telah Gelap. Bersyukur aku karena mas nur baik baik saja.
Aku Turunkan Carrier dan membongkarnya,
Bayu dan Mas Nur Menunggu di jalan setapak sambil mengarahkan Senter agar jadi panduan.
Untunglah beberapa menit kemudian, Sidhik, Gagap dan yang lainya Terlihat. Entah Cerita apa yang mereka alami Setengah jam lalu.
Aku Putuskan untuk meminta bantuan Pendaki lain untuk membuatkan Teh dan Mie Rebus dari logistik kami.
Itung2 agar mengisi Perut dan kalori anak2 yang dari kemarin belum terisi nasi.
Anak Anak Mencoba mendirikan tenda di sisa Pos 3 yang belum diisi Tenda Pendaki Lain. setelah ormed beberapa saat, Akhirnya Sidhik dan Aziz memimpin anak anak untuk mendirikan Tenda di tanah keras yang sepertinya juga jalan air.
Beberapa kali anak2 memasang pasak namun malah melengkung.
Saat Masih Mendirikan Tenda, Rombongan yang tadi menolong kami memasakkan tadi rupanya mau mengeSAR pendaki yang mungkin tadi kami temui di jalan.
mereka minta tiap Tenda untuk mengirimkan satu orang perwakilan dari tiap tenda untuk ikut mendaki keatas untuk SAR.
Aku putuskan untuk ikut karena fisikku masih lumayan baik, Sedangkan Gagap dan Sidik Harus Memimpin untuk mendirikan Tenda yang sedari tdi belum berdiri. sementara meminta yang laen rasanya nggak tega.
Seseoran yang dipanggil Amin ( Seingatku)
Memimpin SAR Ini, karena untuk meminta bantuan Basecamp bawah tidak ada sinyal. Sementara untuk turun ke basecamp mungkin memakan waktu cukup lama.
Total ada 9 orang yang naik, 3 dari kelompok itu, 2 orang teman pendaki yang hilang dan 4 orang dari tenda2 lain.
Dari 9 orang rombongan tadi kami temui, ternyata baru dua orang yang turun. Sisanya 7 Orang ( 2 orang Cewek dan 5 orang Cowok ) masih belum diketahui kondisinya.
keduanya berpikir bahwa teman temanya yang lain juga ikut turun dan tidak jadi muncak.
dari Informasi yang kami dapat seorang cewek ternyata sedang sakit sedangkan cowoknya memaksa untuk naik.
Hadeh
Jam 8 lebih kami bersiap untuk naik, setelah berdoa dan membawa perbekalan secukupnya.
: Teh, Logistik Makanan, P3K dan beberapa jas hujan ( yang aku ambil Punya anak2 ) kami bersiap naik.
Kisah Selanjutnya cukup aku ringkas saja karena ini lebih Fokus Ke Rescuenya daripada Pendakian BP13.
" Tim Rescue Bergerak Cepat, Busyet Dah. Dalam Kondisi setengah berlari walau hanya mengandalkan senter headlamp. Selain Berteriak Kami Juga mengirimkan sinyal lewat Lampu Headlamp. Sesekali kami menyebar menjadi 2 kelompok untuk menyisir jalan di pinggir. yang paling depan menyenter ke depan dan yang tengah kesekeliling. beberapa pendaki juga menyusul kami setelah memberikan sinyal.
Setelah tanjakan curam kami bertemu sebuah tenda, dan satu orang kami temukan beristirahat di tenda tersebut, Lalu setelah membawa menerima HT rombongan bergerak cepat lagi naik, Dijalan kami menemukan lagi seorang pendaki yang tersesat lalu di Ujung Kami bertemu Sebuah Tenda yang sepertinya tenda pendaki terakhir. Disana Kami menemukan seorang gadis yang menangis terus karena khawatir dengan kondisi keempat temanya yang masih diatas. Walaupun sudah ditenangkan oleh Pendaki lain dari tenda itu.
Kondisi cuaca memburuk, Hujan Parah. dan yang aku takutkan terjadi. Sepertinya perutku keram karena lapar dan kedinginan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu disitu bersama 2 orang lain.
Jas Hujanku aku berikan pada rescuer lain.
Hujan bertambah deras akhirnya terpaksa kami bertiga ikut berdesakan di Pinngir dalam Tenda itu yang sebenarnya hanya kapasitas 4 orang. Diisi 8 Orang.
jaketku sudah mulai basah sampai ke bajunya. Hadeeeh.
Dingin sangat, dikondisi seperti ini hal yang berbahaya adalah hipotermia.
Beberapa Waktu Berlalu dan Tim Rescuer yang naik turun dengan tangan hampa. Kondisi Cuaca Terlalu Buruk, bahkan beberapa terkena kram perut karena badai. Mereka berencana untuk turun ke Pos 3. Menunggu Cuaca Membaik dan baru naik lagi setelah cuaca memungkinkan.
Akhirnya putuskan untuk ikut turun ke Pos 3. Kondisi terlalu buruk disini dan jika terlalu lama malah akan menjadi beban. Dari HT Terdengar bahwa Pos 3 juga habis kena hujan yang buruk. Khawatir aku dengan Kondisi Anak- anak di bawah.
Perjalanan Ke bawah Cukup terseok seok serta diiringi hujan gerimis.
Back to The Story
Pos 3 11.30 malam
Akhirnya aku tiba lagi di pos 3, Keadaan sudah gelap. Aku Putuskan tuk masuk Tenda yang anak anak berhasil bangun.
Aku Tidur dengan Bayu, Gagap dan Sidhik.
Kondisi di Dalam juga kurang baik. Setelah Melepas Jaketku yang basah dan hanya memakai kaos aku makan beberapa bungkus mie kering dan madu untuk mengganti kalori . Di Dalam kondisi tenda cukup basah, pakeanku di dalam carrier juga tak ada yang kering. sementara tak terkecuali Sleeping bag. Aku Tertidur dengan kondisi baju basah, Begitu juga anak2. Semoga di Tenda Samping kondisi lebih baik.
Akhirnya kami tidur seperti ayam, Duduk sambil saling memunggungi. Punggungku dengan Punggung gagap. Sementara Punggung Sidhik dengan Bayu.
Sesekali Aku Terbangun dan mengigil, sambil melihat Jam yang terlihat begitu lama Berdetak.
Kapan Paginya! Batinku.
Jam 3 Ada Beberapa orang menyenteri Tenda kami, dan terdengar Ada Suara Orang minta Tolong.
Mungkinkah Tim Rescue sudah bersiap lagi untuk naik. Entah Tapi kondisiku saat itu sudah terlalu lemah.
Dan Sayup Sayup hanya terdengar suara Rintik Hujan dan Angin yang kembali menampar nampar tenda.
batinku Bersyukur Dia nggak jadi aku ajak naik.
Dan Aku Mulai Terlelap lagi. . .
Dengan Kondisi tidur ayam.
END
Pagi Menjelang, dan Hari Cerah,
yah Seperti kisah kisah yang happy Ending Lain.
matahari bersinar lagi dari balik gunung Sumbing.
hangat, dan Aku tak Peduli dengan sunrise di puncak. Toh Sunrise yang cantik pernah aku dapatkan di puncak Bromo, Lawu dan Ciremai. ( paling bagus di Ungaran ^0^)
4 pendaki yang belum kami temukan tadi malam turun sendiri ke Pos 3 setelah badai berlalu. entah cerita apa yang mereka alami yang pasti disaat kondisi down dan dekat dengan bahaya seseorang dapat mengeluarkan kemampuan dibatas nalar seperti yang aku alami tadi malam.
Dan Tim dari base camp seperti polisi India yang datang terlambat dan mendapat penjelasan panjang lebar dari Amin.
Pagi itu Agus merebus Mie yang banyak dan entah anak2 yang memang nggak nafsu makan atau memang hendak pengen pulang.
Perjalanan Turun Cerah, cerah banget Malah.
Diiringi jalan yang sekarang berdebu kami turun dari Pos 3 ke Pos 1. rerumputan berubah menjadi Pepohonan dan pepohonan beralih menjadi lahan Perkebunan sayur.
Lelah mungkin sangat terasa setelah berjam jam jalan kaki.
Pertanian Wonosobo yang hampir tak mungkin dijumpai di jakarta.
Dan Di lahan tani yang cantik itu aku melambaikan tangan pada Gunung Sindoro.
Sindoro Sampai bertemu Lagi!!
Senyumku, Sambil menatap Sahabat sahabatku
BP13.

- NB -
Semua Percakapan di atas seingat Penulis dan Kebanyakan memakai bahasa Jawa
Setelah Perjalanan Itu, Tim berpisah di basecamp setelah makan nasi goreng.
Aku dan gagap di Wonosobo makan MIE ONGKLOK dan TEMPE KEMUL.
Pulang Naik Bis Sinar Jaya, Di Cibitung setelah mengambil Motor.nAku Tepar Seharian di Kos dengan gagap.
Panas

Khawatir aku akan kondisi mas nur yang berjalan paling depan, sementara kakinya baru saja terperosok.
" Entah, tadi Masih Kelihatan " Bayu menoleh padaku.
Jam 18.30 di jam di pergelangan tangan kiriku.
Ini sudah sekitar dua jam kami berjalan dari Puncak Sindoro ke Pos 3 dengan kondisi mulai hujan dan berkabut.
Untunglah Angin kencang yang sedari tadi berhembus sudah agak mereda.
Namun Gelap Malam Tak Bisa berbohong,
Jalan Sudah mulai gelap. dan rombongan mulai terpisah, entah kenapa.
" gap, Tolong tungguin anak anak yang dibelakang "
Pintaku pada Gagap yang berjalan dibelakangku. Tampaknya wajahnya juga sudah mulai kepayahan.
Sementara aku dan Bayu berjalan agak cepat menuruni jalan setapak untuk mengejar Mas Nur.....
Flash Back - 2 Jam Sebelumnya
Kami Sudah mulai menuruni Jalan Setapak dari puncak. Pandangan Mata sekitar 15 Meter karena tertutup kabut
- Kata Ari.
" Dik Gimana Nih ? " Tanyaku
" mau Nggak Mau kita harus turun ke Pos 3 sebelum gelap dan Mendirikan Tenda disana" Ujar Sidhik
terlalu berbahaya jika harus mengecamp di batu tatah ataupun di bawah puncak dengan kondisi seperti ini

Kabut
Kami pun Berjalan turun dan beberapa kali ketemu pendaki yang malah sedang mau naik. Entah apa di pikiran mereka. pohon pohon edelweish dan rerumputan tampak berembun, Dingin.
Ingin rasanya pemandangan ini berubah menjadi hutan hutan dengan pepohonan tinggi agar angin dingin tak terlalu menusuk.
Pohon lamtoro yang pendek, kurus dan kokoh seakan menghina kelelahan tubuh kami. Sekali Kali terperosok bebatuan juga kami rasakan.
Salah Satu Tips menuruni jalur dari Puncak ke Pos 3 adalah melakukan orientasi dulu, karena ada beberapa lajur landai disamping untuk turun disisi lain lajur yang penuh bebatuan.
tangan Juga Dapat dipakai untuk membantu pergerkan juka jalan agak Curam dan jangan lupakan untuk memakai Tumit dan bukan ujung kaki.

Lelah
Langit Kemerahan di ujung Gunung Sumbing menandakan bahwa langit sudah mulai akan gelap........
2 jam berlalu
Akhirnya aku Dan bayu sampai di Pos 3, Disini Tenda Tenda sudah dibangun oleh pendaki pendaki lain. Jam Menunjukkan Pukul 7 dan langit Telah Gelap. Bersyukur aku karena mas nur baik baik saja.
Aku Turunkan Carrier dan membongkarnya,
Bayu dan Mas Nur Menunggu di jalan setapak sambil mengarahkan Senter agar jadi panduan.
Untunglah beberapa menit kemudian, Sidhik, Gagap dan yang lainya Terlihat. Entah Cerita apa yang mereka alami Setengah jam lalu.
Aku Putuskan untuk meminta bantuan Pendaki lain untuk membuatkan Teh dan Mie Rebus dari logistik kami.
Itung2 agar mengisi Perut dan kalori anak2 yang dari kemarin belum terisi nasi.
Anak Anak Mencoba mendirikan tenda di sisa Pos 3 yang belum diisi Tenda Pendaki Lain. setelah ormed beberapa saat, Akhirnya Sidhik dan Aziz memimpin anak anak untuk mendirikan Tenda di tanah keras yang sepertinya juga jalan air.
Beberapa kali anak2 memasang pasak namun malah melengkung.
Saat Masih Mendirikan Tenda, Rombongan yang tadi menolong kami memasakkan tadi rupanya mau mengeSAR pendaki yang mungkin tadi kami temui di jalan.
mereka minta tiap Tenda untuk mengirimkan satu orang perwakilan dari tiap tenda untuk ikut mendaki keatas untuk SAR.
Aku putuskan untuk ikut karena fisikku masih lumayan baik, Sedangkan Gagap dan Sidik Harus Memimpin untuk mendirikan Tenda yang sedari tdi belum berdiri. sementara meminta yang laen rasanya nggak tega.
Seseoran yang dipanggil Amin ( Seingatku)
Memimpin SAR Ini, karena untuk meminta bantuan Basecamp bawah tidak ada sinyal. Sementara untuk turun ke basecamp mungkin memakan waktu cukup lama.
Total ada 9 orang yang naik, 3 dari kelompok itu, 2 orang teman pendaki yang hilang dan 4 orang dari tenda2 lain.
Dari 9 orang rombongan tadi kami temui, ternyata baru dua orang yang turun. Sisanya 7 Orang ( 2 orang Cewek dan 5 orang Cowok ) masih belum diketahui kondisinya.
keduanya berpikir bahwa teman temanya yang lain juga ikut turun dan tidak jadi muncak.
dari Informasi yang kami dapat seorang cewek ternyata sedang sakit sedangkan cowoknya memaksa untuk naik.
Hadeh
Jam 8 lebih kami bersiap untuk naik, setelah berdoa dan membawa perbekalan secukupnya.
: Teh, Logistik Makanan, P3K dan beberapa jas hujan ( yang aku ambil Punya anak2 ) kami bersiap naik.
Kisah Selanjutnya cukup aku ringkas saja karena ini lebih Fokus Ke Rescuenya daripada Pendakian BP13.
" Tim Rescue Bergerak Cepat, Busyet Dah. Dalam Kondisi setengah berlari walau hanya mengandalkan senter headlamp. Selain Berteriak Kami Juga mengirimkan sinyal lewat Lampu Headlamp. Sesekali kami menyebar menjadi 2 kelompok untuk menyisir jalan di pinggir. yang paling depan menyenter ke depan dan yang tengah kesekeliling. beberapa pendaki juga menyusul kami setelah memberikan sinyal.
Setelah tanjakan curam kami bertemu sebuah tenda, dan satu orang kami temukan beristirahat di tenda tersebut, Lalu setelah membawa menerima HT rombongan bergerak cepat lagi naik, Dijalan kami menemukan lagi seorang pendaki yang tersesat lalu di Ujung Kami bertemu Sebuah Tenda yang sepertinya tenda pendaki terakhir. Disana Kami menemukan seorang gadis yang menangis terus karena khawatir dengan kondisi keempat temanya yang masih diatas. Walaupun sudah ditenangkan oleh Pendaki lain dari tenda itu.
Kondisi cuaca memburuk, Hujan Parah. dan yang aku takutkan terjadi. Sepertinya perutku keram karena lapar dan kedinginan. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu disitu bersama 2 orang lain.
Jas Hujanku aku berikan pada rescuer lain.
Hujan bertambah deras akhirnya terpaksa kami bertiga ikut berdesakan di Pinngir dalam Tenda itu yang sebenarnya hanya kapasitas 4 orang. Diisi 8 Orang.
jaketku sudah mulai basah sampai ke bajunya. Hadeeeh.
Dingin sangat, dikondisi seperti ini hal yang berbahaya adalah hipotermia.
Beberapa Waktu Berlalu dan Tim Rescuer yang naik turun dengan tangan hampa. Kondisi Cuaca Terlalu Buruk, bahkan beberapa terkena kram perut karena badai. Mereka berencana untuk turun ke Pos 3. Menunggu Cuaca Membaik dan baru naik lagi setelah cuaca memungkinkan.
Akhirnya putuskan untuk ikut turun ke Pos 3. Kondisi terlalu buruk disini dan jika terlalu lama malah akan menjadi beban. Dari HT Terdengar bahwa Pos 3 juga habis kena hujan yang buruk. Khawatir aku dengan Kondisi Anak- anak di bawah.
Perjalanan Ke bawah Cukup terseok seok serta diiringi hujan gerimis.
Back to The Story
Pos 3 11.30 malam
Akhirnya aku tiba lagi di pos 3, Keadaan sudah gelap. Aku Putuskan tuk masuk Tenda yang anak anak berhasil bangun.
Aku Tidur dengan Bayu, Gagap dan Sidhik.
Kondisi di Dalam juga kurang baik. Setelah Melepas Jaketku yang basah dan hanya memakai kaos aku makan beberapa bungkus mie kering dan madu untuk mengganti kalori . Di Dalam kondisi tenda cukup basah, pakeanku di dalam carrier juga tak ada yang kering. sementara tak terkecuali Sleeping bag. Aku Tertidur dengan kondisi baju basah, Begitu juga anak2. Semoga di Tenda Samping kondisi lebih baik.
Akhirnya kami tidur seperti ayam, Duduk sambil saling memunggungi. Punggungku dengan Punggung gagap. Sementara Punggung Sidhik dengan Bayu.
Sesekali Aku Terbangun dan mengigil, sambil melihat Jam yang terlihat begitu lama Berdetak.
Kapan Paginya! Batinku.
Jam 3 Ada Beberapa orang menyenteri Tenda kami, dan terdengar Ada Suara Orang minta Tolong.
Mungkinkah Tim Rescue sudah bersiap lagi untuk naik. Entah Tapi kondisiku saat itu sudah terlalu lemah.
Dan Sayup Sayup hanya terdengar suara Rintik Hujan dan Angin yang kembali menampar nampar tenda.
batinku Bersyukur Dia nggak jadi aku ajak naik.
Dan Aku Mulai Terlelap lagi. . .
Dengan Kondisi tidur ayam.
END
Pagi Menjelang, dan Hari Cerah,
yah Seperti kisah kisah yang happy Ending Lain.
matahari bersinar lagi dari balik gunung Sumbing.
hangat, dan Aku tak Peduli dengan sunrise di puncak. Toh Sunrise yang cantik pernah aku dapatkan di puncak Bromo, Lawu dan Ciremai. ( paling bagus di Ungaran ^0^)
4 pendaki yang belum kami temukan tadi malam turun sendiri ke Pos 3 setelah badai berlalu. entah cerita apa yang mereka alami yang pasti disaat kondisi down dan dekat dengan bahaya seseorang dapat mengeluarkan kemampuan dibatas nalar seperti yang aku alami tadi malam.
Dan Tim dari base camp seperti polisi India yang datang terlambat dan mendapat penjelasan panjang lebar dari Amin.
Pagi itu Agus merebus Mie yang banyak dan entah anak2 yang memang nggak nafsu makan atau memang hendak pengen pulang.
Perjalanan Turun Cerah, cerah banget Malah.
Diiringi jalan yang sekarang berdebu kami turun dari Pos 3 ke Pos 1. rerumputan berubah menjadi Pepohonan dan pepohonan beralih menjadi lahan Perkebunan sayur.
Lelah mungkin sangat terasa setelah berjam jam jalan kaki.
Pertanian Wonosobo yang hampir tak mungkin dijumpai di jakarta.
Dan Di lahan tani yang cantik itu aku melambaikan tangan pada Gunung Sindoro.
Sindoro Sampai bertemu Lagi!!
Senyumku, Sambil menatap Sahabat sahabatku
BP13.

Edelweish, Yah Meski Belom Mekar
- NB -
Semua Percakapan di atas seingat Penulis dan Kebanyakan memakai bahasa Jawa
Setelah Perjalanan Itu, Tim berpisah di basecamp setelah makan nasi goreng.
Aku dan gagap di Wonosobo makan MIE ONGKLOK dan TEMPE KEMUL.
Pulang Naik Bis Sinar Jaya, Di Cibitung setelah mengambil Motor.nAku Tepar Seharian di Kos dengan gagap.
Panas

Bunga untuk Kalian
Minggu, 09 Februari 2014
Catatan Pendakian Gunung Sindoro - Part 1 BP 13 REUNION
Lama Aku tak menulis cerita pendakian,
Terakhir ku tuliskan pendakian setahun lalu saat mendaki ciremai.
Pendakian pendakian gunung sebelumnya,
Gede, Ungaran, papandayan dan krakatau pun tak aku tulis.
Meski di Pendakian Terakhir aku bertemu seorang gadis cantik, mungkin terlalu memalukan kalau ditulis karena terlalu banyak cerita mabuk laut.
Namun pendakian kali ini terasa berbeda,
Pendakian Kali ini adalah pendakian Pertama BP 13.
Pendakian setelah sekian lama tak bertemu
Tertanggal 30 Januari 2014,
Aku bersiap untuk melakukan pendakian dengan perlengkapan seadanya yang kebanyakan ( Minjam)
(^0^)
Jam Menunjukkan pukul setengah enam sore, tiba tiba ada whats up dari gagap ( Aziz ) untuk rombongan jakarta berangkat bareng dari Cibitung,
Hadeh
- Rencana Semula Ketemuan di terminal Wonosobo -
Pendaki dari jakarta rencananya berjumlah 12 Orang. Namun sapi, Fahmi dan 6 orang teman gagap tak jadi ikut.
Jadi tinggal aku bayu dan gagap yanng berangkat.
Setelah buru buru packing aku melaju ke Cibitung sekiar pukul setengah tujuh malam. memburu waktu, apalagi saat itu akan libur panjang aku mencoba jalan tembusan lewat casablanca. dan ternyata... banjir.
Kampreeeeet!
Jalan Jakarta - Kalimalang - Bekasi pun lumayan macet. Akhirnya tiba juga di Portal Sinar Jaya sekitar jam 9 malam setelah kena beberapa kali lubang dan hampir tertabrak truk.
Disana Telah Menunggu Gagap dan Bayu dengan carrier masing2.
Gagap dengan Syal Liverpool Kesayanganya dan Bayu dengan Kaos juve baru dan senyum khasnya.
Padatnya penumpang yang memburu Bis Sinar Jaya ke Jawa tengah membuatku miris,
ada juga yang kecopetan karena berdesak desakan untuk mendapatkan Bis. Banyak oran berjuang untuk dapat.
" hey Gap, Ini Orang semua ya ? " tanyaku pada gagap heran.
menikmati liburan di kampung halaman masing2. dan akhirnya pukul 11 malam kami mendapatkan Bus ke..... Pemalang.
Tak Apalah yang penting dapat Bis Dahulu.
Perjalanan dari Jakarta ke Pemalang yang kami perkirakan hanya sampai jam 7 molor sampai jam 10 Pagi akibat macet, Kami Juga sempat istirahat di Indramayu dan makan bakso. Pemandangan jalur pantura terlihat elok dengan sawah disisi sisinya, yang terendam banjir membuatnya lebih mirip dengan Tambak.
dari Pemalang Kami Lanjutkan Perjalanan ke Purbalingga dengan Bis lalu ke Terminal Wonosobo. Jalan yang kami lalui lumayan bagus dengan pematang sawah dan deretan pegunungan dari kejauhan.
Jam Setengah 4 Sore Kami Tiba di Terminal Wonosobo. Udara Sejuk mengisi paru2 kami dan dinginya air disini mengingatkanku akan rumah di ungaran
Setelah Beristirahat, solat dan mandi kami kemudian naik angkot ke pasar kretek sekitar setengah jam.
Disana aku bertemu dengan sahabat lama, Sidik, Ari dan Mas Nur.
Serta Dua orang Anggota BP13 yang baru , Agus dan Aris. Sidik masih seperti dahulu , matanya tetap sayu, dan mas nur juga masih kurus. Hanya Ari yang kelihatan Agak Berbeda.
Terlihat ceking dengan celana pendek warna hitam yang entah di dobel berapa.
Kami Lalu naik Bis ke Kledung.
Di sinilah Base camp tempat kami akan mendaki.
Pukul set 6 sore kami disini. Base Camp Kledung ada di sebelah Kantor Desa Kledung dan Dibawah Pohon Beringin dan Ada Sebuah Masjid yang cukup besar di dekatnya.
Di Belakang terlihat Pemandangan gunung Sumbing, dengan petak petak pertanian disekitarnya.
Setelah sedikit perdebatan akhirnya kita baru akan naik sekitar jam 3 pagi mengingat cuaca masih buruk dan di luar Hujan.
Setelah mendaftaran di Pos dan membayar ke Pos pendakian Rp 4.000 per orang kami beristirahat di RSG
Malam itu Kami habiskan dengan maen kartu remi dan bercengkrama. Udara mulai dingin dan menusuk.
Hujan pun mulai turun deras
jam baru menunjukkan angka 8 malam tapi berhubung udara dingin dan capek perjalanan secara tidak sadar mulai aku tarik Sleeping Bagku dan mulai tertidur. Sementara anak anak lain masih Sibuk masak Indomie.
Terbangun aku melihat semua orang masih berselimutkan Sleeping bag masing masing. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Kami mulai bersiap untuk memulai pendakian.
setelah bersiap siap jam setengah 4 kami berjalan. dengan menyalakan senter masing masing kami bergerak menuju ladang penduduk. Malam itu Alhamdulillah terang bintang. Jadi tidak usah khawatir akan adanya hujan.
Pemandangan gunung sumbing di belakang kami tampak elok dan teduh sementara di depan kami menjulang tinggi gunung Sindoro. Menunggu untuk kami daki. Satu jam berlalu dan kami telah sampai di Pos 1. Pos 1 adalah gubuk yang sisinya menghadap ladang dan di belakangnya adalah hutan.
Disini kami istirahat solat terlebih dahulu.

Ketinggian : 1600 MDPL
Pukul 5 lebih, matahari sedikit terlihat di cakrawala di belakang gunung sumbing. kami melanjutkan hendak berangkat menuju Pos 2. perjalanan ke pos 2 mulai diselingi pepohonan yang teduh dan jalan yang berkelak kelok. disisi sisi jalan yang kami lalui ada pepohonan mirip dengan jalur pendakian jika kita mendaki ke gunung merbabu. pohonnya tidak begitu tinggi dan ramping, disela selanya banyak semak belukar.
Setalah satu setangah kami berjalan, tibalah rombongan di Pos 2, disini kami bertemu dengan anak kecil dari wonosobo ( Anak SD) yang juga mendaki. Hebat juga mereka. padahal disini kami sudah cukup melelahkan, berhubung no picture hoax,
Aku kasih fotonya :

Ketinggain 2150MDPL
Pos 2 juga berupa gubuk dan disini cukup rindang, perjalanan dari Pos 2 ke pos 3 menanjak, dari pepohonan yang rindang beralih menjadi pemdangan yang berupa padang rumput yang diselingi dengan pepohonan yang mulai sedikit. Jam 9 kami telah sampai di pos 3. disini rombongan sudah cukup capek, Gagap mengalami keram kaki.
" We believe and we can do it my freinds"
Pos 3 GA ADA POSNYA
disini cuma lahan landai dan dari sini banyak pendaki yang telah mendirikan tenda. Di kejauhan tampak bukit bukit memanjang dan dibelakang gunung sumbing agak tertutup awan. ketinggian 2650 MDPL. Disini cukup nyaman. namun sesuai keputusan untuk turun di jalur tambi kami memanggul carrier kembali. ( pendaki lain biasanya meninggalkan barang di Pos ini dan naik hanya membawa backpack)
dari cerita ke cerita, memang mendaki gunung ga ada kata menaklukan, yang ada adalah belajar.
Let's learn and survive.
perjalanan dari pos 3 ke pos 4 ( Watu Tatah) Cukup Berat. Sekitar 5 Jam perjalanan.
Selain jalan cadas dan pepohonan yang sedikit. terik matahari juga membakar kulit kami. Carier yang berat juga menyulitkan perjalanan. Apalagi hanya ada 3 orang dari kami yang telah berpengalaman naik gunung diatas ketinggian 3000 meter. Kami menulusuri jalan setapak demi setapak.

Tim Sudah cukup capek apalagi dari pagi belum sarapan, bahkan Indomiepun tidak. Berjalanan mulai melambat dan udara menipis.
Angin dingin mulai menerpa rombongan. Sidhik sudah mulai khawatir dengan kondisi tim. Apalagi tak Hanya Gagap, Mas Nur pun juga mengalami kram kaki. Ari Sudah terlihat lelah, begitu juga agus.
Aris dan sidhik walaupun terlihat berjalan paling depan namun sudah mulai terseok, begitu juga aku.
Awan di bawah kaki kami dan pemandangan di sekitar kami sudah berubah menjadi pohon pohon edelweis ( walaupun bunganya belum bermekaran ) menandakan bahwa puncak sudah dekat.
Puncak berbentuk melingkar dengan kawah ditengahnya yang berisi pepohonan yang telah mati, hal yang aku agak tak suka adalah coretan coretan dari pendaki lain di bebatuan.
namun selebihnya aku senang di tempat ini. 3165 M diatas permukaan air laut. Gunung ke 4 tertinggi di Jawa tengah dan juga gunung 4 di jawa tengah yang aku daki. Sidik bahkan telah mendaki gunung di belakang kami.
Sumbing saat PP.
Ya dan Akhirnya Jam 3, Kami Sampai di puncak dengan keadaan kepayahan.
hampir 12 jam perjalanan telah tertebus.
Walau Kondisi di puncak angin berhembus begitu kencang dan kawah tertutup kabut. Namun Pendakian BP13 kali ini berjalan lancar.
Terima kasih pada kalian yang bersamaku mendaki puncak sindoro.
Kalian adalah orang orang hebat, 12 jam mendaki tanpa sarapan ( Dan itu adalah salahku juga ) dengan menggendong carrier ke puncak.
Kami berdelapan dan akan turun berdelapan tatapku pada puncak sindoro yang mulai mengamuk.

Jam telah menunjukkan pukul setangah 4. Sanggupkah anak anak berjalan Dik ?
tatapku pada sidhik. Sedangkan untuk mengecamp di puncak terlalu berbahaya. dan jalur tambi yang kami cari belum terlihat karena badai mulai menerjang.
Jarak pandang mungkin hanya 15 meter. selebihnya terlihat putih
Bersambung....................................
Detail Pendakian :
Grup Jakarta : Deny, bayu dan Aziz
Grup Purworejo :Sidhik
Grup Semarang : Mas Nur, Ari dan 2 orang member baru BP 13
Detail Gunung :
Gunung Sindoro ( 3156 Mdpl)
Jalur : Kledung Wonosobo, Jawa Tengah
Poto : Nur Suhadi
Dipersembahkan untuk Kalian, Keluarga besar BP13,
Ikut Ataupun Tidak ikut
Terakhir ku tuliskan pendakian setahun lalu saat mendaki ciremai.
Pendakian pendakian gunung sebelumnya,
Gede, Ungaran, papandayan dan krakatau pun tak aku tulis.
Meski di Pendakian Terakhir aku bertemu seorang gadis cantik, mungkin terlalu memalukan kalau ditulis karena terlalu banyak cerita mabuk laut.
Namun pendakian kali ini terasa berbeda,
Pendakian Kali ini adalah pendakian Pertama BP 13.
Pendakian setelah sekian lama tak bertemu
Tertanggal 30 Januari 2014,
Aku bersiap untuk melakukan pendakian dengan perlengkapan seadanya yang kebanyakan ( Minjam)
(^0^)
Jam Menunjukkan pukul setengah enam sore, tiba tiba ada whats up dari gagap ( Aziz ) untuk rombongan jakarta berangkat bareng dari Cibitung,
Hadeh
- Rencana Semula Ketemuan di terminal Wonosobo -
Pendaki dari jakarta rencananya berjumlah 12 Orang. Namun sapi, Fahmi dan 6 orang teman gagap tak jadi ikut.
Jadi tinggal aku bayu dan gagap yanng berangkat.
Setelah buru buru packing aku melaju ke Cibitung sekiar pukul setengah tujuh malam. memburu waktu, apalagi saat itu akan libur panjang aku mencoba jalan tembusan lewat casablanca. dan ternyata... banjir.
Kampreeeeet!
Jalan Jakarta - Kalimalang - Bekasi pun lumayan macet. Akhirnya tiba juga di Portal Sinar Jaya sekitar jam 9 malam setelah kena beberapa kali lubang dan hampir tertabrak truk.
Disana Telah Menunggu Gagap dan Bayu dengan carrier masing2.
Gagap dengan Syal Liverpool Kesayanganya dan Bayu dengan Kaos juve baru dan senyum khasnya.
Padatnya penumpang yang memburu Bis Sinar Jaya ke Jawa tengah membuatku miris,
ada juga yang kecopetan karena berdesak desakan untuk mendapatkan Bis. Banyak oran berjuang untuk dapat.
" hey Gap, Ini Orang semua ya ? " tanyaku pada gagap heran.
menikmati liburan di kampung halaman masing2. dan akhirnya pukul 11 malam kami mendapatkan Bus ke..... Pemalang.
Tak Apalah yang penting dapat Bis Dahulu.
Perjalanan dari Jakarta ke Pemalang yang kami perkirakan hanya sampai jam 7 molor sampai jam 10 Pagi akibat macet, Kami Juga sempat istirahat di Indramayu dan makan bakso. Pemandangan jalur pantura terlihat elok dengan sawah disisi sisinya, yang terendam banjir membuatnya lebih mirip dengan Tambak.
dari Pemalang Kami Lanjutkan Perjalanan ke Purbalingga dengan Bis lalu ke Terminal Wonosobo. Jalan yang kami lalui lumayan bagus dengan pematang sawah dan deretan pegunungan dari kejauhan.
Jam Setengah 4 Sore Kami Tiba di Terminal Wonosobo. Udara Sejuk mengisi paru2 kami dan dinginya air disini mengingatkanku akan rumah di ungaran
Setelah Beristirahat, solat dan mandi kami kemudian naik angkot ke pasar kretek sekitar setengah jam.
Disana aku bertemu dengan sahabat lama, Sidik, Ari dan Mas Nur.
Serta Dua orang Anggota BP13 yang baru , Agus dan Aris. Sidik masih seperti dahulu , matanya tetap sayu, dan mas nur juga masih kurus. Hanya Ari yang kelihatan Agak Berbeda.
Terlihat ceking dengan celana pendek warna hitam yang entah di dobel berapa.
Kami Lalu naik Bis ke Kledung.
Di sinilah Base camp tempat kami akan mendaki.
Pukul set 6 sore kami disini. Base Camp Kledung ada di sebelah Kantor Desa Kledung dan Dibawah Pohon Beringin dan Ada Sebuah Masjid yang cukup besar di dekatnya.
Di Belakang terlihat Pemandangan gunung Sumbing, dengan petak petak pertanian disekitarnya.
Setelah sedikit perdebatan akhirnya kita baru akan naik sekitar jam 3 pagi mengingat cuaca masih buruk dan di luar Hujan.
Setelah mendaftaran di Pos dan membayar ke Pos pendakian Rp 4.000 per orang kami beristirahat di RSG
Malam itu Kami habiskan dengan maen kartu remi dan bercengkrama. Udara mulai dingin dan menusuk.
Hujan pun mulai turun deras
jam baru menunjukkan angka 8 malam tapi berhubung udara dingin dan capek perjalanan secara tidak sadar mulai aku tarik Sleeping Bagku dan mulai tertidur. Sementara anak anak lain masih Sibuk masak Indomie.
Terbangun aku melihat semua orang masih berselimutkan Sleeping bag masing masing. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Kami mulai bersiap untuk memulai pendakian.
setelah bersiap siap jam setengah 4 kami berjalan. dengan menyalakan senter masing masing kami bergerak menuju ladang penduduk. Malam itu Alhamdulillah terang bintang. Jadi tidak usah khawatir akan adanya hujan.
Pemandangan gunung sumbing di belakang kami tampak elok dan teduh sementara di depan kami menjulang tinggi gunung Sindoro. Menunggu untuk kami daki. Satu jam berlalu dan kami telah sampai di Pos 1. Pos 1 adalah gubuk yang sisinya menghadap ladang dan di belakangnya adalah hutan.
Disini kami istirahat solat terlebih dahulu.

jauh
Ketinggian : 1600 MDPL
Pukul 5 lebih, matahari sedikit terlihat di cakrawala di belakang gunung sumbing. kami melanjutkan hendak berangkat menuju Pos 2. perjalanan ke pos 2 mulai diselingi pepohonan yang teduh dan jalan yang berkelak kelok. disisi sisi jalan yang kami lalui ada pepohonan mirip dengan jalur pendakian jika kita mendaki ke gunung merbabu. pohonnya tidak begitu tinggi dan ramping, disela selanya banyak semak belukar.
Setalah satu setangah kami berjalan, tibalah rombongan di Pos 2, disini kami bertemu dengan anak kecil dari wonosobo ( Anak SD) yang juga mendaki. Hebat juga mereka. padahal disini kami sudah cukup melelahkan, berhubung no picture hoax,
Aku kasih fotonya :

Pos 2
Ketinggain 2150MDPL
Pos 2 juga berupa gubuk dan disini cukup rindang, perjalanan dari Pos 2 ke pos 3 menanjak, dari pepohonan yang rindang beralih menjadi pemdangan yang berupa padang rumput yang diselingi dengan pepohonan yang mulai sedikit. Jam 9 kami telah sampai di pos 3. disini rombongan sudah cukup capek, Gagap mengalami keram kaki.
" We believe and we can do it my freinds"
Pos 3 GA ADA POSNYA
disini cuma lahan landai dan dari sini banyak pendaki yang telah mendirikan tenda. Di kejauhan tampak bukit bukit memanjang dan dibelakang gunung sumbing agak tertutup awan. ketinggian 2650 MDPL. Disini cukup nyaman. namun sesuai keputusan untuk turun di jalur tambi kami memanggul carrier kembali. ( pendaki lain biasanya meninggalkan barang di Pos ini dan naik hanya membawa backpack)
dari cerita ke cerita, memang mendaki gunung ga ada kata menaklukan, yang ada adalah belajar.
Let's learn and survive.
perjalanan dari pos 3 ke pos 4 ( Watu Tatah) Cukup Berat. Sekitar 5 Jam perjalanan.
Selain jalan cadas dan pepohonan yang sedikit. terik matahari juga membakar kulit kami. Carier yang berat juga menyulitkan perjalanan. Apalagi hanya ada 3 orang dari kami yang telah berpengalaman naik gunung diatas ketinggian 3000 meter. Kami menulusuri jalan setapak demi setapak.

Pendakian
Tim Sudah cukup capek apalagi dari pagi belum sarapan, bahkan Indomiepun tidak. Berjalanan mulai melambat dan udara menipis.
Angin dingin mulai menerpa rombongan. Sidhik sudah mulai khawatir dengan kondisi tim. Apalagi tak Hanya Gagap, Mas Nur pun juga mengalami kram kaki. Ari Sudah terlihat lelah, begitu juga agus.
Aris dan sidhik walaupun terlihat berjalan paling depan namun sudah mulai terseok, begitu juga aku.
Awan di bawah kaki kami dan pemandangan di sekitar kami sudah berubah menjadi pohon pohon edelweis ( walaupun bunganya belum bermekaran ) menandakan bahwa puncak sudah dekat.
Puncak berbentuk melingkar dengan kawah ditengahnya yang berisi pepohonan yang telah mati, hal yang aku agak tak suka adalah coretan coretan dari pendaki lain di bebatuan.
namun selebihnya aku senang di tempat ini. 3165 M diatas permukaan air laut. Gunung ke 4 tertinggi di Jawa tengah dan juga gunung 4 di jawa tengah yang aku daki. Sidik bahkan telah mendaki gunung di belakang kami.
Sumbing saat PP.
Ya dan Akhirnya Jam 3, Kami Sampai di puncak dengan keadaan kepayahan.
hampir 12 jam perjalanan telah tertebus.
Walau Kondisi di puncak angin berhembus begitu kencang dan kawah tertutup kabut. Namun Pendakian BP13 kali ini berjalan lancar.
Terima kasih pada kalian yang bersamaku mendaki puncak sindoro.
Kalian adalah orang orang hebat, 12 jam mendaki tanpa sarapan ( Dan itu adalah salahku juga ) dengan menggendong carrier ke puncak.
Kami berdelapan dan akan turun berdelapan tatapku pada puncak sindoro yang mulai mengamuk.

Puncak Sindoro Sebelum Badai
Jam telah menunjukkan pukul setangah 4. Sanggupkah anak anak berjalan Dik ?
tatapku pada sidhik. Sedangkan untuk mengecamp di puncak terlalu berbahaya. dan jalur tambi yang kami cari belum terlihat karena badai mulai menerjang.
Jarak pandang mungkin hanya 15 meter. selebihnya terlihat putih
Bersambung....................................
Detail Pendakian :
Grup Jakarta : Deny, bayu dan Aziz
Grup Purworejo :Sidhik
Grup Semarang : Mas Nur, Ari dan 2 orang member baru BP 13
Detail Gunung :
Gunung Sindoro ( 3156 Mdpl)
Jalur : Kledung Wonosobo, Jawa Tengah
Poto : Nur Suhadi
Dipersembahkan untuk Kalian, Keluarga besar BP13,
Ikut Ataupun Tidak ikut
Rabu, 22 Januari 2014
Adipati Karna
Adipati karna
dalam pewayangan Jawa sosoknya mungkin Antagonis.
seorang Antagonis yang membela Kurawa. Saudara pandawa yang sejak bayi dibuang ke sungai
Jadi seorang anak kusir yang mati ditangan saudara seibunya.
Seorang yang memiliki bakat dan tekad.
Yang mungkin dipikir orang tak tahu diri,
cih. hanya seorang anak kusir. Pikir mereka.
Durna pun tak mau mengangkatnya jadi murid
dan Bima menghujatnya
Tapi siapa sih di dunia ini yang tak pernah salah?
Kesalahan fatal yang sangat fatal
dan karenananya suyudana berani berperang
Tapi sang adipati karna adalah seorang yang berjiwa besar.
Ia tau yang dibelanya salah. Tapi dia punya harga diri dan tahu tempat dan tanggung jawabnya.
Soal mati Bukan jadi soal.
Karena Dia telah menjalankan apa yang ia rasa harus jalani
dalam pewayangan Jawa sosoknya mungkin Antagonis.
seorang Antagonis yang membela Kurawa. Saudara pandawa yang sejak bayi dibuang ke sungai
Jadi seorang anak kusir yang mati ditangan saudara seibunya.
Seorang yang memiliki bakat dan tekad.
Yang mungkin dipikir orang tak tahu diri,
cih. hanya seorang anak kusir. Pikir mereka.
Durna pun tak mau mengangkatnya jadi murid
dan Bima menghujatnya
Tapi siapa sih di dunia ini yang tak pernah salah?
Kesalahan fatal yang sangat fatal
dan karenananya suyudana berani berperang
Tapi sang adipati karna adalah seorang yang berjiwa besar.
Ia tau yang dibelanya salah. Tapi dia punya harga diri dan tahu tempat dan tanggung jawabnya.
Soal mati Bukan jadi soal.
Karena Dia telah menjalankan apa yang ia rasa harus jalani
Langganan:
Komentar (Atom)