Berjalan di pematang sawah yang diselingi padi anakan yang berwarna hijau, Raja Rubah mengeram Pelan.
keempat kakinya berjalan dengan was was. Takut Akan ketahuan manusia yang bertuankan tanah tersebut.
Sudah 3 Hari ini sang Raja Rubah keluar dari hutan untuk ke sawah.
menuruni Gunung dan meninggalkan semak belukar. Dengan asa kan hidup lebih lama.
Ke Sawah Hijau di kaki gunung Lawu karena kehausan. Mata Air telah kering, sekering air mata banyak hewan yang mati kelaparan di kaki gunung itu.
Sang Raja Rubah terantuk sebuah batu. Batu yang membuatnya terkesima, batu yang tertutup Lumut Cokelat.
Lumut hidup.
Akan tenangnya di panas terik itu.
dan warna kecokelatan dan motif disekujur tubuhnya yang unik.
Dan Si Lumut terkesima juga dengan si Raja Rubah.
Rubah berwarna merah dengan moncong hitam dan gigi setajam silet.
bagai mau menerkam namun dengan sorot mata bijaksana
” Hai Lumut, Bagaimana Hidupmu disini ? Senangkah ? “
Tanya Sang Raja Rubah penuh tanya
” Aku Disini beratapkan langit dan panas serta suara-suara katak dan jangkrik dengan riang menemaniku”
” Aku Bahagia, Walaupun aku sepertinya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta”
Jawab Sang Lumut Cokelat
“Apa yang membuat tuan datang kemari ? ” Ujar si lumut cokelat sopan
“Wahai Lumut Cokelat ” Aku disini karena naluri agar tetap ingin hidup
“Air Di kaki gunung Lawu telah mengering dan mati.
mungkin karena pohon pohon besar dan tinggi yang telah hidup dari jaman kakekku masih kecil telah ditebangi”.
“Nyanyian Nyanyian bising dari suara suara logam yang dibawa mahluk berkaki dua yang kata tetuaku bernama manusia sungguh memuakkan.” Ucap Si Raja Rubah sambil mengeram
“Wahai Raja Rubah yang Baik, Aku hanya ingin berkata. Mungkin suatu saat akan tiba saatnya ketika mannusia dapat memahami dan mengerti mahluk seperti kita”
“Mungkin suatu saat mereka kan menyadari dan mengembalikan apa yang bakal mereka renggut”
“seperti Pak Petani yang setelah menebangi para padi, mereka menanam yang baru dan merawatnya”
ucap si Lumut Cokelat
“Mungkin, dan Terima kasih atas ceritamu wahai Lumut Cokelat “
Ucap Si Raja Rubah berlalu dengan pelan.
Ia Ingin kembali secepatnya ke Keluarganya.
Kepada Istrinya yang berbulu kekuning kuningan dan rakyatnya yang patuh.
Kepada Tetuanya yang Bijak dan anak anaknya yang lucu.
Si Lumut Cokelat berharap sang Raja Rubah kan kembali.
Namun.
.
.
.
Sang Raja Rubah tak mungkin bisa kembali lagi,
Tidak Untuk Si Lumut Cokelat, Tidak Juga Untuk Keluarga Si Raja Rubah.
Dan Si Lumut Cokelat tidak menyadari apa apa
Tentang Peristiwa
tentang hakekat apa itu yang disebut manusia
dia hanya bisa mendengar
Hanya terdengar letusan suara senapan dari Kejauhan Hutan…………….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar