t Chapter 4 Campfire Memories
5.00 sore, 27 October 2012
" Cepetan Cuk, Carier karo wonge duwuran wonge " Anas berteriak sambil bercanda kepada Irfan yang agak kesulitan melewati pinggiran kawah.
" Ki Ketoke aku kurang latihan kang" ujarIrfan yang harus membawa carier menyisiri kawah
Jam sudah menunjukan Pukul 5, sementara rombongan 4 Jomblo dari semarang itu terus melangkah
ditampar oleh angin dingin yang beranjak naik, matahari pun mulai hinggap turun di ufuk barat
Diterpa Angin Dingin
"Ktoke Jalur Lingga Jati lewat kono" kata Hardok sambil menunjuk arah timur,
terlihat siluet garis garis kuning dan merah jaket pendaki dari kejauhan.
dari PaLUTUNGan ke lingga jati memang harus menyisiri kawah.
"Piye nek ngeecamp nenk kene, kang?" Ucap Deny pada Anas.
mereka tiba cekukan agak kedalam di pinggir kawah yang bisa digunakan untuk mendirikan Doom.
" Halah Mlaku sek Tik" Ujar Anas sambil menyeka wajahnya yg merah karena terik tadi siang.
Beberapa saat kemudian mereka menemukan sebuah cekungan lagi dan bekas api unggun.
karena jam sudah hampir menunjukkan jam setengah enam
setelah mendirikan Camp di tempat yang cukup hangat itu, Irfan menyeduh Kopi hangat dan Mie Rebus untuk menghangatkan badan.
( Enake Puol!!)
Deny sambil mengenggam Kopi hangat menatap kejauhan,
Gunung Slamet terlihat Cantik dengan awan di kaki kakinya.
Di Belakang adalah Kawah Ciremai dan di depan mereka terhampar bunga edelweish
Begitu cantik pikir Deny
Anas
Anas kemudian menyalakan Api Unggun dari Kayu yang dikumpulkan Irfan dan Deny.
Jerami Kering dari rumput dibakar untuk menyalakan ranting2 yang semula basah
Anget
"Oalah Tuo2" umpat Anas ke Irfan sepanjang Malam.
" Tik2 Brintik. Rambutmu to lee"Umpat Anas ke Deny
" Yo Kowe wae ireng makane nek bengi g Ketok" Umpat Anas ke Hardok
membuat malam itu lebih ceria
namun ketika dia salah berkata neng Gelis, dia langsung termenung memandang api unggun.
bagian dari masa lalunya yang sudah dia lupakan terekam kembali
Rasa sakit dan perih yang sudah Ia coba lupakan.
Bahkan setelah 3 tahun di laluinya di Batam
...................................
Hardok
" Ketoke bakal Adem ki rek. Awane Gak Ketok" Kata Hardok sambil menatap langit penuh bintang
dengan logatnya yg sudah berubah jadi logat suroboyonan.
Skripsi, sesuatu di dalam batinya membatin.
entah memang dia masih kurang berminat atu termotivasi, namun ini adalah tahun ke 3nya kuliah lanjutan dari D3 ke S1
Matanya terpejam.
terlintas sejenak gadiis cantik kemarin.
Hus dicobanya lupakan.
terpejam Lagi,
terlintas Anas Sedang Boker ketemu dengan Sigit di Ungaran
Hus Dicobbanya melupakan bayangan itu dan kembali terfokus.
Akhirnya dengan mantap ia membatin sebuah judul skripsi yang diajukanya nanti.
...................................
Deny
Dingiin, Batin Deny
Bayanganya masih berkelebat. hampir setahun dia di jakarta tanpa menemukan Hati yang baru
dan Kantornya terasa sepi tidak seperti dulu karena teman2nya keluar masuk
meninggalkan kenangan dan kerjaan
( Maklum Konsultan)
Masa depan yang masih kabur dihadapanya harus dihadapi
Lampu rumah2 terlihat terang dari kejauhan di bawah bagaikan kunang-kunang merah berbaris baris.
Aku suka malam seperti ini pikir Deny.
Berbagi cerita dengan lepas tentang Wapalhi, tentang Masa Lalu, Pekerjaan ( yang katanya anas g boleh diomongin di gunung), Cewek
dan "Kegaplekan2 kami".
melupakan kepenatan mengerjakan Balance Sheet,Tax,Kemacetan Jakarta,tugas kuliah
dan cinta.........................
^0^
Irfan
Anas dan Deny sudah mulai tertidur.
jam Lapangnya menunjukkan angka 12.
Hardok masih menemaninya bercerita.
dilemparkanya beberapa ranting kering ke Api Unggun
Baju yang bertuliskan jejak petualang yang dikenakanya membawa kembali ingatanya ke Jogja
sosoknya mulai kabur
gadis itu yang pernah singgah dihatinya
Ia melempar Ranting2 kering seakaan ia ingin membuang Masa Lalunya yang kelam itu di Api Unggun
menyambut hari yang baru
.........................................
"Cuk Matrase Kobong" teriak Hardok menunjuk pingiran matras yang dipakai Irfan
Chapter 5 Sunrise
Aduh, keluh Deny saat tertidur di samping kang anas.
malam itu susunan Ikan pindang di doom dari kanan Irfan, Hardok, Anas dan Deny
malam sebelumnya sepertinya cukup saat camp di Cigowong, namun kala itu Doom terasa sempit dan "Uwel2an"
setelah debat panjang dan gak penting siapa yang buat
"Sikilmu tik nekuk2" Ucap Hardok ke Deny
" Ki Kang Anas ngebak2ki nggon" Ucap Deny ke Anas
" lah ki Pikolo ktoke turu bentuke ga genah" Ucap Hardok ke Irfan
"Halah Gapleki, aku wae gak oleh nggon" ucap Irfan ke semuanya. sambil tertawa
Kumisnya yang panjang mengingatkan pada Adolf Hitler
Paginya sambil memasak Ikan asin dan packing.
Deny Dengan rambut awut2tanya pagi itu sudah keluar mencari " tempat Nongkrong"
Saat keluar dari doom ia melihat matahari terbit begitu cantik diantara bunga2 edelweiss
Pagiii!!!
doom and edelweiss
Jam 9 mereka Berempat baru berangkat.
Di sisi lain Puncak, Bagian Lingga Jati
setelah melewati sisi kawah.
mereka berfoto Ria
merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Bendera Minjem pendaki lain.
Hey Kawan Met Hari sumpah Pemuda.
Merah Putih
Setelah Puas, mereka menatap kembali jalan pulang yang diselingi beberapa in Memoriam
pertanda bahwa beberapa pendaki telah menghembuskan nafas terakhir di Gunung ini
Dari Puncak Jalan menurun terjal dan tajam.
Debu bertebangan mengiringi langkah mereka sehingga harus mengukur jarak
beberapa kerikil kadang jatuh jika diinjak.
" Cah, Aku emoh nek kon lewat jalur iki maneh" Ucap Anas tersengal sengal
melewati jalur bebatuan yang agak vertical.
"Heeh," Kata Irfan sambil menghembuskan rokok
Deny juga sepertinnya terlihat berpeluh keringat. Hanya hardok yang terlihat masih segar
mungkin karena efek Buang air Besar di Alam atau karena Kulitnya sehingga memantulkan panas.
namun dengan tekad dan semangat mereka dapat turun sampai ke Bawah.
Turun Gunung sambil berlari, bahkan Cover carrier hardok pu jadi korban karena
saat Deny membawanya dan tersangkut Pohon salak.
Sampai Di Pos bawah Lingga jati, salah satu tempat bersejarah di Indonesia.
Mereka berjalan pelan sambil tertawa bersama, menantikan gunung lain untuk didaki
Yah sambil melihat ke belakang. gunung Ciremai tampak megah, angkuh dan dingin
Dari Kejauhan
Sekilas Jalur Lingga Jati
jalur pendakian favorit namun juga paling berat di Ciremai, memiliki 12 pos pendakian dan hanya terdapat Air di Pos Pertama.
Pendakian Dimulai dari ketinggian 750 Meter dan Puncak Ciremai sekitar 3075 M. pendaki biasanya memerlukan waktu naik 8 -1 0 Jam
di beberapa tempat jalur mendaki terjal dan terdapat batu2 cadas namun disayangkan di Jalur Lingga jati di sekitar Posnya banyak sampah bertebaraan.
fauna masih sering terlihatoleh pendaki seperti lutung, babi dll
Jalur Lingga jati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar