Malam Sungguh Dingin, hujan rintik rintik jam 8 malam itu mengiringi Bhisma yang sedang lari- larian.
di sebuah sudut kecil di Bandung di bulan November, Kala daun daun di Pohon pohon angsana terayun lembut karena angin. hanya katak mungkin dan suaranya yang tampak semarak. sisanya cuma tetes hujan dan sepi.
Hujan tiap malam turun di bulan ini. Mungkinkah kota hujan pindah ke bandung ?
Deretan perumahan bergaya jaman belanda yang diselingi pepohonan kecil terlihat di kanan kiri Bhisma.
unik dan romantis. namun bukan romantisme dipikiran Bhisma, malam itu hal yang paling penting baginya ada di dalam tas sampingnya.
yang Bhisma coba lindungi dari hujan.
Rumah kecoklatan no 5 di blok itu beratap biru langit.
tampak seorang gadis tinggi berambut panjang sedang membaca Novel Dorian Gray.
Gadis manis , kurus dan berkacamata tipis yang kelihatan dari gelagatnya ber IPK diatas 3.7
Disapanya gadis itu, yang sebenarnya agak jutek gara gara ada yang membuyarkan konsentrasinya membaca Novel.
Namun ketika dilihatnya Bhisma yang menyapa. Seutas senyum tersimpul di Bibirnya.
"Malem, Bela ada Mir ? " tanya Bhisma. sekenanya.
"Ada tuh, dikamarnya "
"Eh, Lu sekali kali, nyariin Gue kek ".
"Hujan - Hujan malah nyariin tuh combro"
Mira mencoba menyembunyikan kekecewaan karena yang di cari malah sahabatnya.
"Eh, Ntar Gue kapan kapan juga nyariin elu kok "
Bhisma jawab dengan mimik serius.
"Hah, kapan ?" Mira ngarep
"Ntar kalo si Bela nggak ada, Gue ntar nyariin elu " jawab Bhisma polos.
Jawaban polos yang sebenernya kalo cowok tau itu bakal nyakitin cewek. pasti ga bakal diucapin.
" Bela ada nggak nih, biasanya lu pasti ada mulu ma dia "
Membuyarkan Mira yang sesaat melamun.
" Tau Ah , kayaknya tuh anak lagi ada di kamarnya"
"Makasih Miraa, " Bhisma nyengir seneng,
"Eh ada coklat gue ambil ya"
setelah ngambil cokelat di meja Mira, Si Bhisma yang lari ngacir ke arah kamar Bela.
"Makasih Miraa, " Bhisma nyengir seneng,
"Eh ada coklat gue ambil ya"
setelah ngambil cokelat di meja Mira, Si Bhisma yang lari ngacir ke arah kamar Bela.
Mira cuma bisa geleng kepala dan senyum. Ada ya mahluk kayak gini.
----------------------
Bela sedang santai di kost, sambil meminum secangkir kopi sachetan di kost dan dengerin lagu lagu Souljah kesukaanya.
Baunya enak, Pikirnya. entah kenapa bau kopi bisa nenangin pikiran Bela yang kadang ruwet.
Bela lalu merapikan tasnya, persiapaan buat latihan teater nanti.
Bela adalah anak yang cinta kebersihan. di sudut kamar kostnya yang berwarna putih ada sebuah gitar accoustic, dan di sudut tersusun rak sepatu dan rak lemari pakaian, kontras dengan poster anggun di samping meja.
meskipun kamarnya yang emang rapi dan tersusun layaknya gadis lain tak serapi penampilanya yang tomboi.
dua tahun lebih sudah Bela pindah dari Bogor ke Bandung untuk kuliah sastra tapi belom pernah sekalipun teman temanya melihat dia pakai rok, pasti jelana jins dan kaos.
" Duak Duak Duak" suara ketukan keras dari arah pintu kamar.
Pasti Bhisma, pikir Bela,
mana ada mahluk hidup di bandung yang berani mengetuk pintu kost Bela keras keras selain Bhisma.
"Bis Malam lu ngapain hujan hujanan ke kos gue, pake acara ga ngontek lagi? " Tanya Bela Galak.
"Enak aja lu, manggel gua Bis malam"
" nama udah keren juga, Hape ketinggalan di Basecamp mapala".
Bhisma membela diri diejek sahabatnya itu.
" yah mendingan lah gue manggil Bis Malam, lumayan bagus kan ?"
" daripada nama asli lu, kayak personel Boyband "
" Ogah, nama gue bagus tau, Itu tuh nama karakter wayang di mahabarata".
" dan ........". Bhisma ngomong panjang lebar sejarah namanya yang ke 5 kalinya ia ceritakan ke Bela.
Bela udah males dengernya sambil tutup kuping. bukanya dia nggak suka wayang atau apa.
tapi kayaknya udah waktunya Bela latihan Teater.
Sebagai temen bela emang orangnya asik. tapi kalo urusan teater. Naudzubilah galaknya.
Dosen tata tulis sastra, Pak Rama pun nggak mampu menandingi kegalakan Bela.
"Udah udah Stop" potong Bela,
"Gue Mau nglatih teater, tau sendiri kan ini hari Sabtu "
"Oke deh Bel, lagian lu mah. orang gue ke kos elu mau minjem catetan deaktologi SIA"
Ia memohon dengan muka melas agar Bela mau dengan iklas minjemin dokumen berharga yang dia tulis rapi selama sebulan kuliah.
"Buat apaan coba ? lu udah pinter. Nyatet pelajaran juga kagak pernah!"
"Tumben tumbenan, pasti ada apa apanya."
tuduh Bela
"Lu kan tau gue bisa kuliah gara- gara beasiswa"
"Ada yang Gue kagak ngerti,Gue kan habis naik Gunung Ciremai. Gak ikut Kul 2 hari "
"mana Besok Senen Ujian kan ?"
" Boong ah, Nggak Gue kasih pinjem"
Bela kesel. Udah tau tabiat Bhisma kalo lagi bohong. maklum udah 2 tahun mereka sahabatan.
"Oke-oke, ada temen temen di kelas yang mau minjem buku elu, buat disalin buat belajar.
Kan satu jurusan juga tahu, elu tulisanya paling rapi"
"Terus, kenapa nggak pada minjem sendiri ? " tanya Bela selidik.
"Yaelah Bel, satu jurusan juga tau, elu yang paling galak. Gue doang yang berani ma elu "
Bela memang salah seorang gadis manis di sastra, tapi terkenal galak. dan mungkin hanya beberapa teman cowok Bela, dan Bhisma salah satunya. karena kebanyakan cowok yang deket sama Bela niatnya pengen jadiin Bela pacar. namun Bela protek sama dirinya agar tidak dideketin cowok cowok tersebut. Entah berapa batang coklat, Bunga ataupun kado yang dia tolak dari berbagai jenis cowok.
"Iya dah, tapi janji ga boleh lecek lho Bhis "
"Janji deh, eh elu mau berangkat jam berapa ? "
"Sama Gue ya"
Bela melihat Jam di dinding. Setengah jam lagi bakal mulai latihan.
Bela adalah anak tertib yang paling nggak suka telat.
" Nggak usah, ngrepotin elu. Gue mau pake motor Mira aja"
" Bukan Itu Bel "
"Terus ? "
"Gue kan kesini tadi naik angkot, terus jalan kaki"
" Anterin dong, ke Basecamp, Ada rapat nih "
Dan suarapun hening sejenak ...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar